Keuntungan dan Kerugian Nabung di Bank

Keuntungan dan Kerugian Nabung di Bank

Rajin menabung pangkal kaya? Is this really true? Kalau menurut Lo Kheng Hong, yang disebut-sebut sebagai Warren Buffettnya Indonesia, “Menyimpan uang di bank sebetulnya membuat kita miskin secara pelan-pelan.” Hayo, setuju gak? Lo Kheng Hong bilang kalau menabung di bank bisa bikin kita makin miskin karena nilai mata uang Rupiah cenderung turun terus. Lebih parahnya lagi, sebenernya bank tempat kamu menabung itu bisa aja “diem-diem” ngambil duit kamu loh! Here’s how.

Pernah ngebayangin gak, “Uang yang kita tabung di bank emangnya disimpan gitu aja ya?” Jawabannya, nggak! Uang yang kita taruh di bank itu biasanya bakalan diputar lagi sama banknya. Sebagai contoh, kalau ada orang yang mau pinjam kredit ke bank, kan biasanya jumlahnya gak kecil. Nah, uang yang dipinjamkan itu diambil dari akumulasi tabungan-tabungan nasabah mereka, termasuk punya kamu. Dari pinjaman tersebut, bank bakalan dapat keuntungan juga dari bunga pinjamannya.

Ada juga, nih, fenomena “upselling”. Gini konsepnya. Tahu kan kalau bank tuh suka nawarin upgrade kartu biar bisa dapat keuntungan ini dan itu? Padahal, keuntungan yang dijanjikan tuh bisa aja gak instan. Misalnya, dengan upgrade ke kartu Platinum dengan minimum deposito 10 juta Rupiah, katanya kamu bakal dapet bunga sebesar 5%. Tapi, kalau kamu baca lebih rinci di dokumen kontraknya, bisa aja bunganya tuh membesar secara berkala. Jadi, gak langsung 5% dari awal upgrade kartu. Belum lagi ditambah dengan syarat kewajiban transaksi sebesar sekian, sekian, sekian. Intinya mah, mereka cuma pengen kamu buat nabung dengan jumlah banyak dan jadi pelanggan setia (walaupun terpaksa).

Daaan, yang paling jelas depan mata adalah biaya admin dan biaya transfer! Mungkin sebagian besar orang masih bisa toleransi biaya administrasi, ya, karena kan kita memang menggunakan jasa yang ditawarkan oleh bank tersebut. Ga mungkin gratis, kan? Tapi, nominal biaya adminnya wajar gak ya untuk semua yang udah mulai serba digital kaya sekarang? Belum lagi kalau biaya administrasinya dibagi jadi dua: biaya administrasi kartu dan rekening. 

Menurut Kepala Divisi Penelitian dan Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan hitungan sederhana, kalau saldo di tabungan kita belum menyentuh angka Rp23 juta, maka bunga yang kita terima tidak akan lebih tinggi dari biaya administrasi (Tirto.id, 2018). Dengan kata lain, bunganya bahkan gak cukup buat bayar biaya admin per bulan! Bukannya untung, malah rugi.

Udah gitu, masih ada biaya transfer antarbank. Biaya Rp5.000-Rp7.500 tiap transaksi sebenarnya mungkin gak terlihat terlalu besar. Tapi, coba kalau sebulan aja kalian melakukan 10 transaksi ke bank lain. Jadi Rp50.000-Rp75.000 kan sebulan? Aren’t we just getting poorer and poorer?

Pada intinya, kalau dicermati, menabung di bank tuh memang belum tentu pangkal kaya. Padahal, waktu SD dulu, anak-anak kecil diajarin untuk menabung di bank karena lebih aman dan ada bunganya. Faktor terakhir sih yang biasanya paling ditekankan. Pola pikir sejak kecil itu tertanam dan, ketika mereka mulai bertambah besar, langsung buka rekening di bank demi bunga itu. Nyatanya, nggak untung-untung juga ya. 

Kalau nabung di celengan gak aman, dan nabung di bank ga bikin untung, solusi yang tepat untuk “nabung” dan untung apa ya?

Takeaway your news! Dapatkan konten eksklusif langsung ke email kamu!

Tulis email kamu dibawah ini. Gratis, tanpa komitmen